Wednesday, August 20, 2014

Let me wipe your tears away

Apa yang paling meyedihkan? Menanis didepan orang atau melihat orang yang paling kamu sayang menangis didhadapanmu? Keduanya sama. Seimbang.

Air mata itu seperti bicara, seperti menceritakan semuanya walau dengan kamu belum berbicara. Hanya ada sesegukmu yang tersisa. Miris, masih aku mendengarnya.


Menangis sini, dibahuku sampai ia basah karena airmatamu. Tegak tatap mataku supaya dapat aku menghapus air matamu.

Menangis sini dihadapanku supaya tahu aku bebanmu.

Supaya nanti dapat aku teringat dalam kenanganmu, bahwa kamu pernah menangis denganku.

Thursday, August 14, 2014

Seperti Awal Pertemuan


Terkadang memang kita tidak memiliki kesempatan untuk memilih tanggal. Dalam takdir yang datang secara tiba-tiba. Setelah melewatinya, we feel like going back in time to do things: fix the mistake that we made. Bisa? Tidak.

Dalam keadaan yang paling berat untuk menjalani apa yang Tuhan takdirkan, kita hanya meminta untuk buta lalu dilupakan ingatannya. But, closing your eyes isn’t going to change anything. Nothing’s going to disappear just because you can’t see what’s going on.


Kita diminta hanya untuk melewatinya, sampai masanya selesai. Sampai rasa itu habis dan kembali kepada seperti awal pertemuan.


Thursday, June 26, 2014

Atas nama pertemanan, tuan!


Apa yang paling membuat orang didunia ini merasa bangga? Dicintai atau terlalu dalam mencintai. Dan cinta apa yang paling dikagumi oleh manusia? Memiliki atau hanya mengangguminya dari balik tirai yang samar-samar dapat memandanginya.

Takdir adalah hal yang tidak dapat kita kembalikan. Tapi hanya dapat kita lewati, seraya mensyukuri dari keputusan-keputusan yang sebelumnya kita ambil.
seperti hati, yang diam-diam mencintai tanpa dapat sebelumnya kita larang. Seperti cinta, yang dengan tiba -tiba menjadi rasa pada orang yang sebelumnya tidak kita duga.

Kita, dari awal hanya berikrar untuk menjadi teman bukan? Atas segala masa dari cerita yang akan kita kenang sama-sama. Pada saat dimana kita sama-sama ingin kembali dan memutarnya. Berdua saja, sebagai teman yang pernah mengukir sejarah. Semoga aku menjadi masa yang akan kamu rindukan.

Karena rasa ini tidak dapat dibantah. Maka, tuan. Ijinkan aku hanya mengagumimu tanpa pernah menjadikan persahabatan ini runtuh. Ijinkakan aku hanya memendam ini dari rasa yang muncul dibalik kebodohanmu, kecuranganmu, tawamu dan bahkan semua hal dari apa yang pernah aku lihat dalam dirimu.

Sebelumnya, aku bersumpah untuk mengubur ini agar tidak terlalu dalam dan membuat kita menjadi sulit berteman. Tapi rasanya, tuan, seperti terlalu bodoh untuk membuang rasa yang aku sendiri masih menikmatinya. Rasanya terlalu aneh untuk menolak rasa dari apa yang aku sendiri masih terlalu nyaman merasakannya.

Tapi kita sudah berikrar dari awal. Untuk menjadikan ini sebatas teman satu derita dalam keadaan yang sama. Maka tuan, apa yang kita ikrarkan tidak dapat aku hilangkan begitu saja.


Atas nama rasa yang semakin hari semakin bergejolak. Semakin kau dekati aku semakin menuncak.

Aku kubur tuan. Hanya dengan tersenyum memandangimu yang mendekat. Hanya dengan menasehatimu untuk dapatkan cinta yang teramat kamu puja. Aku hanya tidak ingin kehilangan, kamu sebagai teman dekatku, tuan. Dengan hanya memendam ini saja. Dan menghilangkannya secara perlahan. Karena pada masanya rasa ini akan hilang. Dengan kamu ketahui terlebih dahulu atau tanpa kamu pernah menduganya.

Sunday, June 22, 2014

Jenuh atau menjauh?




All that i want in my life is the feeling of peace. Duduk ditengah kebisingan para orang yang sejak tadi menahan lapar dijalan. Ditengah-tengah keramaian, sendirian. Satu gelas capuccino yang seharusnya sejak 4 bulan lalu gue gak boleh minum. Tapi entah, malem ini rasanya gue harus minum kopi. Harus. Kalo muntah? Gue yang tanggung. Sudah lebih dari tiga jam. Gak wajar banget sebenernya gue ada disebuah kafe berjam-jam sendirian. Tapi karena kafe ini punya om gue dan semua karyawan kenal siapa gue, maka gue akan dengan nyaman duduk sendirian tanpa merasa diasingkan.

Pernah merasa terlalu jenuh? Jenuh terhadap semua hal yanga da disekeliling lo. Ketika temen-temen lo mulai gak asik, dosen-dosen lo mulai ngeselin, tugas yang gak abis-abis, keluarga yang kurang pengertian, atau bahkan tidak merasakan jatuh cinta. Merasa bahwa dunia ini terlalu membosankan. Kosong seperti tidak memiliki kehidupan.

“Traveling sana! Coba jalan-jalan sendirian kali aja semangat lo balik lagi!!”  i do, berkali-kali sampe gue ngerasa bosen sama perjalanan gue sendiri. Pantai? Sekedar ke malang untuk cari makan? Keliling jakarta? Ngiterin surabaya sampe kayak orang gila? Bahkan jalan keliling kosan sendirian... dan entah untuk apa. Yang seharusnya kejenuhan gue ilang. Tapi sekembalinya gue dari perjalanan itu, yang ada gue semakin jenuh dan tetep jenuh.

Bangun tidur, kuliah, balik kosan, ngobrol, makan, tidur lagi. Kalo gak ada kuliah Cuma uring-uringan dikamar, ngomongin orang yang berkali-kali diomongin, bolak balik stalking siapapun yang padahal gak dikenal, jelous sama orang yang sebenernya gak patut untuk lo cemburuin.

Ini jenuh? Atau gue yang mulai menjauh. Gue merasa bangun tidur tidak pada semangat yang bulan-bulan lalu gue punya. Gue bangun tidur karena alasan sakit perut atau kipas angin yang kekencengan. Atau kalo lagi sialnya tetangga kosan yang grasak grusuk dengan harus ngebangunin orang. Gue tidur juga bukan karena alasan besok gue harus mendapat tenaga. Gue tidur karena alasan mengantuk, ketiduran atau saking tidak punya kerjaan.

Gue merasa roda gue sedang berada dititik tengah. Lurus. Berjalan tanpa berbelok. Sampai gue merasa terlalu jenuh untuk meneruskan. Gue terkadang mikir untuk memutar balik. Ambil cuti kuliah, balik ke Jakarta. Duduk dipangkuan nyokap sampe gue merasa lebih tenang. Tapi resiko dikemudian akan mungkin lebih besar. Gue akan semakin ditinggalkan orang-orang terdekat gue.

Gue jenuh? Atau gue menjauh. Dari temen-temen gue, dosen gue, kuliah gue, tugas gue, keluarga gue, atau cinta gue terhadap apapun.

Gue jenuh? Atau menjauh.

Sidoajo 22 juni 2014


Wednesday, June 18, 2014

Tentang Seseorang di 18 Juni




Pada tanggal ini biarkan gue bercerita tentang apa yang telah gue lalui. Biarkan gue menulis tentang apa yang telah gue jalani. Ditanggal ini yang entah sudah berapa lama hari telah berjalan pada masanya sendiri. Biarkan gue bercerita, tentang seseorang.

Seseorang yang mau nemenin gue muterin surabaya untuk cari makan yang gue kangenin di Jakarta. Tentang seseorang yang selalu dengerin cerita gue setiap malam, sebelum masing-masing kita terlelap pada mimpi yang masing-masing kita inginkan. Tentang dia, yang mau tertawa disaat bahkan hanya kami berdua yang paham apa yang kami tertawakan dan menangis disaat sama-sama ada yang kami rindukan.

Ijinkan gue bercerita tentang seseorang, yang pada duapuluh tahun lalu dilahirkan. Dan gue kenal selama dua tahun belakangan. Sederhananya kami hanya teman satu kosan, satu nasib dan satu penanggungan. Sederhananya kami memang hanya dua bocah kecil yang sedang belajar tentang apa arti kehidupan.

Gue tersesat lalu dia ingatkan. Dia kebablasan lalu gue tarik mendekat untuk tidak terlalu jauh menghilang. Gue marah maka dia akan menjadi peredam amarah. Dia menangis maka gue siap akan menjadi bahu tangisannya. Dia tertawa maka gue siap akan menjadi bahan tertawanya. Gue mencaci maka dia akan siap untuk menjadi pendengar caciannya.

Ini memang hanya kisah persahabatan sederhana. Dua anak yang mencari makan selalu sama-sama. Bercerita tentang kisah yang telah dilewati sambil sesekali berandai menjadi orang paling kaya didunia.

Pada malam dimana tidak ada tugas dan makan malam telah disempurnakan. Maka kami akan berccerita, berdua diteras depan kamar. Tentang teman kuliah yang menyebalkan, tugas dosen yang kertelaluan atau bahkan pedagang dikampus yan terlihat sudah renta.

Ini memang kisah sederhana, yang dirampungkan pada masa-masa yang akan menjadi kenangan. Dan karena kenangan tidak akan bisa diulang, maka gue mencoba untuk membuat kenangan itu menjadi sempurna.

Dan karena hari ini adalah tanggal 18 juni untuk duapuluh tahunnya. Dimana dia akan menjadi (seharusnya) lebih dewasa. Maka gue akan bersiap untuk suatu hari kehilangan dia. Setidaknya ketika kita sama-sama lulus kuliah. Atau sudah tidak ngekos bareng lagi. Suatu hari, pasti.

Dan tulisan ini akan menjadi cerita untuk di tanggal 18 juni selanjutnya. Dan semoga kita masih diberikan usia.

Selamat Ulang Tahun Alfie Aulia!!!!

18 juni 2014
22.54


Thursday, May 8, 2014

Pergi ke Samudera Luas




Kenapa harus home-sick? Kenapa harus selalu kangen rumah. Harus nangis dibalik bantal karena gak punya temen cerita. Harus merasa kehabisan uang ditengah bulan karena harga dengan tiba-tiba naik semanunya. Sabtu-minggu diem bengong merhatiin kosan yang sepi. Kenapa harus terasingkan.. terbuang dan dijauhkan dari beberapa orang. Merasa kehilangan padahal masih pada keadaan yang sama.

Karena memang jarak adalah salah satu jalan yang Tuhan ciptakan. Adalah kuasaNya untuk meberikan titah pada manusia. Jika tanpa jarak dan batasan, maka manusia akan semena-mena dan terjadilah kericuhan yang tak terselesaikan.

Gue jadi inget puisi yang membuat gue selalu bangkit dari tangisan awal gue kuliah di sini. Di Surabaya. Suatu pagi dengan mata sembab bekas gue semalam menangisi kerinduan gue terhadap  rumah, dia, kakak gue mengirimi bbm panjang yang gue baca dalam perjalanan menuju kampus.

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
Pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan dan matahari pagi menyinar daun-daunan
Dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang dan warna senja belum kemerah-merahan.
Menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar dan elang laut pulang ke sarang
Angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri dan nahkoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padakku!

Kembali pulang, anakku sayang Kembali ke balik malam
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”

Asrul Sani

Siapapun akan mengartikan puisi ini dengan banyak gambaran, prasangka bahkan pengartian. Setelah baca itu gue menentukan untuk kembali ke kosan gue. Menangis sejadinya dan meninggalkan satu mata kuliah. Gue diijinkan untuk menangis satu malam. Hanya satu malam ketika sehabis gue membaca puisi tersebut. Setelah kakak gue tahu bahwa setiap malam gue selalu menangis merasa diasingkan. Setelah sebelumnya gue merengek untuk segera pidah dari kota antah berantah. Setelah gue menangis terlalu panjang. Dia mengirimi kalimat itu dengan membuat gue kembali menangis.

Menangis sejadinya seperti seolah gue kehilangan arah. Gue seperti dicabik-cabik terhadap kebodohan gue.

Perjalanan gue disini adalah salah satu tapak mimpi yang akan gue ciptakan dikemudian hari. Tapi entah mengapa gue selalu merasa ingin kembali pulang dengan terperangkap dibalik ketiak ibu. Meminta perlindungan dan selalu berharap diberikan ketenangan.

Gue ini nahkoda, yang sedang melaut dipelabuhan jika terus bersandar pada ketiak orang tua. Gue berjalan baru sampai laut dasar dan bahkan pelabuhan gue masih kelihatan. Gue selalu merasa ombaknya besar dan tidak bisa untuk melanjutkan. Gue seperti merasa tercekat pada jaring yang tidak siapapun melemparnya. Gue menangis untuk kembali pulang. Bersandar pada dermaga dan berlindung dibalik ketiak orang tua.

Sampai pada akhirnya pesan itu datang. Menampar pipi gue yang merasa lemah pada ombak yang terlalu sederhana. Gue cinta keluarga gue, dan gue tidak selamanya harus berlindung pada naungan 
kenyamanan. Gue harus ke laut bebas, untuk belajar bagaimana ombak yang keras. Gue harus pergi 
 ke samudera luas, untuk bisa mencapai apa yang mimpi gue telah rumuskan.

Tapi pada masanya gue harus pulang. Kembali pada malam yang semakin pekat. Bercerita tentang bagaimana perjalanan itu adanya. 

Karena pada masanya gue akan kembali, pada cerita pahit ombak yang telah gue lewati.

Tapi adanya kenapa harus selalu rindu rumah ditengah perjalanan. Selalu merasa ombaknya terlalu besar dan ketakutan terhadap akan matinya ditengah jalan.

Kita, anak rantau, adalah nahkoda yang sedang melaut tengah sampai pada samudera. Kita mungkin 
bisa kembali dengan mengubur apa yang telah kita mimpikan sejak awal. Buktinya kita telah jalan sejauh ini, seindah perjalanan ini dan sesulit yang telah kita lewati

Kita bukan pengecut yang ditakdirkan Tuhan untuk tetap bertahan. Karena dari awal kita tidak pernah menentukan untuk kembali kepada perlindungan.

Kita adalah nahkoda yang sedang memikirkan jalan pulang dengan terus berjalan. Karena pada masanya kita akan kembali. Untuk bercerita tentang apa yang telah kita lewati dan kita cita-citakan.

Karena pada waktunya kita akan pulang, merajut masa dengan sejumput kebanggaan.

Maka untuk kalian anak rantau. Ombak ini memang terasa kencang. Tapi akan masih banyak yang 
besar didepan. 

Kembali adalah pilihan pecundang. Terus berjalan adalah pilihan pemenang.

Kita memang akan merasa diasingkan, tapi pada masanya keterasingan itulah yang membuat kita telah berada pada apa yang dari dulu ingin kita capai.

Wednesday, May 7, 2014

Kisah ini Sederhana



Ijinkan aku bercerita sebentar saja, sebelum malam lelap ditinggal bulan yang terumpat dibalik awan. Ini cerita. Kisah seorang bocah yang menangis pedih, sembari sesekali menghapus buliran air matanya dengan telapak tangan yang kotor terkena debu jalanan. Meronta, ingin diberikannya pelukan, agar tidak terlihat tuna kasih sayang.

Ini memang hanya tentang seorang bocah yang beranjak dewasa, rindu pada ayahnya. Rindu akan sebuah kasih dari laki-laki yang dulu paling dicintainya. Sampai rindu itu telah jengah dan memuncak pada isakan tangisan yang disendat. Lalu hanya bisa terucap oleh doa-doa yang ditaburnya tadi malam.

Ini memang tentang kisah yang tidak butuh siapapun mengibakan. Sesederhana itu untuk didengarkan. Tapi entah, seolah air mata rasanya mengalir tanpa pernah bisa diberhentikan. Hati teramat sesak seperti tidak memiliki ruang kebahagiaan. Rasanya memang sebesar itu. Seperti dititik balikan pada satu masa yang kamu sendiri belum siap untuk terjatuh. Padahal dengan alasan yang sesederhana itu.

Ini memang tentang tulisan anak yang rindu pada ayahnya. Yang hanya bisa memandanginya lewat batu nisan sudah tidak berwarna. Seolah nisan itu telinga yang bisa mendengar dari apa yang akan diceritakan. Gila kata kebanyakan orang. Tapi entah sampai kapan, bocah yang beranjak semakin dewasa itu, akan terisak menangis sambil bercerita tentang hidupnya dibalik genggaman nisan yang sesekali diusap rintikan air yang jatuh tanpa bisa ditahan. Entah sampai kapan, pandangan gila dari kebanyakan orang itu akan bertahan.

Sesederhana rindu kepada ayah yang sejak kecil selalu memberi kecupan manis ketika hendak berangkat sekolah. Sesederhana rindu dinasehati saat tidak menuruti perintah ibu. Sesederhana itu dan entah mengapa tangisannya terdengar besar.

Karena, rasa cinta bocah kecil yang beranjak dewasa itu memang tidak sesederhana kisah mereka. Ia cinta. Mati. Pada ayahnya sendiri.

Dan semakin ia menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah tidak ada disisinya lagi, semakin cintanya itu tumbuh besar. Semakin besar dan bahkan tidak lagi dapat diukur dan dibayangkan. Semakin ia menyadari bahwa ayahnya telah lebih dulu mati, semakin ia mengerti bahwa cintanya tidak ikut dikubur dan dilumpuhkan.

Bagaimana bisa, kita kehilangan seseorang dan tetap akan mencintainya? Atau bagaimana bisa seseorang yang telah lebih dulu pergi, lalu cintanya baru kamu sadari.

Ini memang kisah sederhana. Tentang seorang anak yang meminta Tuhan untuk mengembalikan sosok ayahnya. Sesederhana itu, walaupun ia tahu tidak akan bisa.

Tapi entah sampai pada kapan waktunya, anak itu akan tetap meronta. Agar dikembalikannya sosok seperti ayahnya dalam kehidupannya.